Pikiranserta perasaan sang penyair kemudian disusun dengan fokus pada kekuatan bahasanya dengan struktur fisik dan batinnya. Di Indonesia, kita memiliki banyak penyair puisi yang telah menghasilkan karya-karya fenomenal dan terkenal. Sebut saja Chairil Anwar, WS Rendra, Taufik Ismail, Sapardi Joko Damono, dan masih banyak lagi yang lainnya.
WS Rendra - Credit PENGARAH Akhmad Munir, Saptono, Teguh Priyanto. PRODUSER EKSEKUTIF Sapto HP. PRODUSER Panca Hari Prabowo. PENULIS Yogi Rachman. FOTOGRAFER Hermanus Prihatna, Zarqoni, Fanny Octavianus, Ferdi, Fahma Poetri, Pandu Dewantara, Jefri Aries, Salis Akbar. REDAKTUR FOTO Prasetyo Utomo.
Untuk mengenalkan sastra, kami memberikan mereka puisi dari WS Rendra dengan judul 'Sajak Ibunda', lalu untuk lomba membaca cerita, kami membuatkan mereka cerita dongeng yang berasal dari sejarah desa mereka sendiri, yakni Desa Candiwatu. Jadi dari 22 peserta, mereka memilih salah satu di antara 2 perlombaan tersebut," terang Ara.
Beranda» Karya Sastra » Puisi » Puisi. IRAMA NAN BERSENANDUNG. Rabu, 08/06/2022 - 17:58 — Kemirau. yang kauberi padaku waktu itu. Juga warna mata dan rona senyummu . 43 komentar; Baca lanjutannya; Puisi: WS Rendra - Sajak Joki Tobing untuk Widuri (Video) indra, Sabtu, 06/10/2012
11tahun yang lalu atau tepatnya pada 6 Agustus 2009, WS Rendra meninggal dunia. Dia dimakamkan di lokasi pemakaman keluarga di Bengkel Teater Seni WS Rendra yang berada di Cipayung. Meski sosoknya telah lama berpulang, karya-karya Si Burung Merak masih tetap abadi dan tak kan pernah lekang oleh waktu.
Puisi Nyanyian Angsa (Karya W.S. Rendra) Majikan rumah pelacuran berkata padanya: "Sudah dua minggu kamu berbaring. Sakitmu makin menjadi. Kamu tak lagi hasilkan uang. Malahan padaku kamu berhutang. Ini biaya melulu. Aku tak kuat lagi. Hari ini kamu mesti pergi."
CiU3wF. Puisi Sajak Siang Hari Karya Rendra Sajak Siang HariWaktu terapung dalam kolamseperti katak di bawah di antara kiambangnasib buruk mengintip tangannya yang dendammengulur ke arah berdiri dan yang pingsanterjatuh di kolamdisiksa di dasar kolam itunasib buruk yang malasberbaringanmerendam senantiasamatanya yang bernafsumelirik melotot dan nasib buruk yang tebalkutarik dengan tangankudan kepalanya yang kelabukubanting di atas Basis Oktober, 1961Puisi Sajak Siang HariKarya Rendra lahir pada tanggal 7 November 1935 di Surakarta Solo, Jawa Rendra meninggal dunia pada tanggal 6 Agustus 2009 pada usia 73 tahun di Depok, Jawa Barat.
Mengungkapkan cinta memang banyak bentuknya, ada yang melalui kata-kata, bahkan ada yang diabadikan melalui hal itu juga yang dialami oleh Willibrordus Surendra Broto Rendra, atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Rendra merupakan seorang penyair, dramawan, pemeran sekaligus sutradara teater asal Indonesia. Ia pun kerap mengabadikan curahan hatinya melalui puisi, baik bertemakan cinta atau jika memang ingin melihat lebih jauh terkait karyanya, kali ini telah merangkum beberapa puisi cinta karya Rendra yang penuh makna dan Serenda biruUnsplash/Daniel ÁlvasdAlang-alang dan rumputanbulan mabuk di dan rumputanangin membawa bau putihselalu berubah rupayang datang deritaKetika hujan datangmalamnya sudah tuaangin sangat garangdinginnya tak bangkit dari tidurkudan menatap langit janganlah angin itumenyingkap selimut kekasihku!Editors' Picks2. EpisodeFreepik/ProstoolehKami duduk berduadi bangku halaman jambu di halaman ituberbuah dengan lebatnyadan kami senang yang lewatmemainkan daun yang ia bertanya“Mengapa sebuah kancing bajumulepas terbuka?”Aku hanya ia sematkan dengan mesrasebuah peniti menutup itu aku bersihkanguguran bunga jambuyang mengotori – ganas karena bahagia dan sedih,indah dan gigih cinta kita di dunia yang fanaNyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,dan anak kita akan lahir di cakrawalaAda pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanyaJuwitaku yang cakap meskipun tanpa dandananuntukmu hidupku kehidupan berpendar-endar menakjubkanIsyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penakuTanpa sekejap pun luput dari kenangan padamuaku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan4. Pamplet cintaPixabay/fotoworkshop4you-2995268Ma, nyamperin matahari dari satu sisiMemandang wajahmu dari segenap jurusanAku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutanAku melihat waktu melaju melanda masyarakatkuAku merindukan wajahmu,Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswaKampus telah diserbu mobil berlapis bajaKata-kata telah dilawan dengan senjataAku muak dengan gaya keamanan semacam iniKenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan keteganganSumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehatKeamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasanSuatu malam aku mandi di lautanSepi menjadi kacaBunga-bunga yang ajaib bermekaran di langitAku inginkan kamu, tapi kamu tidak adaSepi menjadi kacaApa yang bias dilakukan oleh penyairbila setiap kata telah dilawan dengan kuasa?Udara penuh rasa curigaTegur sapa tanpa jaminan5. OptimismePexels/Andrea PiacquadioCinta kita berdua adalah istana dari porselenAngin telah membawa kedamaianMembelitkan kita dalam pelukanBumi telah member kekuatan,Karena kita telah melangkahdengan ketegasanMuraiku,Hati kita berdua adalah pelangi selusin warnaNah, itulah beberapa kumpulan puisi cinta karya Rendra yang bisa dinikmati. Beberapa puisi tersebut juga ada yang ditujukan untuk istrinya dahulu, yaitu Sunarti dari sekian banyak puisi Rendra yang paling menyentuh hati?Baca juga10 Puisi Cinta Romantis Karya Sastrawan yang Bikin Hati Pasangan LuluhBikin Baper, Ini 5 Puisi Cinta Karya Sapardi Djoko Damono Menyentuh, 40 Puisi Putri Marino yang Mengajarkan Arti Kehidupan
Puisi Rendra – Puisi, seni tertulis menggunakan keragaman bahasa dengan tambahan semantis dan metaforis untuk menambahkan kualitas keindahan tulisan itu. Puisi merupakan bait-bait yang berisi sebuah kalimat indah yang tersusun dan dikemas dengan semenarik mungkin. Puisi memiliki keunikan yang utuh disertai majas, sehingga tak bosan dinikmati bagi para penikmat sajak. Dalam dunia sastra, di Indonesia sendiri telah lahir banyak sastrawan terkemuka yang melegenda. Nama-namanya pun telah mendunia dan dapat menginspirasi bagi siapapun yang membaca dan merenungi puisi-puisinya. Salah satunya, ialah Rendra. Siapa yang tak tahu dengan penyair kenamaan Indonesia yang memiliki nama asli Willibrordus Surendra Broto ini? Melihat nama Rendra saja, Grameds sudah pasti langsung mengetahui sosok penyair ini, karena karya sastranya yang begitu populer. Rendra dikenal sebagai penyair paling kaya di Indonesia. Tak heran, karena ia sangat produktif dalam menciptakan dan memanfaatkan metafora-metafora untuk mendukung citraan dramatik dan visual dalam sajak-sajaknya. Bahkan, Rendra juga mendapatkan julukan sebagai Si Burung Merak atas penampilannya sebagai penyair yang selalu mempesona penonton. Seorang pencinta, layaknya merak yang merentangkan ekor cantiknya untuk menarik perhatian sang kekasih. Untuk merekalah, para kekasih, Rendra menuangkan cintanya lewat puisi dalam bukunya yang berjudul Puisi-Puisi Cinta yang bisa ditemukan di Gramedia. Namun, sebelum mengintip beberapa puisi cinta karangannya. Pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang. Yuk, Grameds, kita kenalan dulu dengan Rendra melalui biografi singkatnya. Mengenal Sekilas Sosok RendraPuisi-Puisi Cinta RendraPuber Pertama 1954-1958PermintaanRambutKangenKami BerduaKegemarannyaTemperamenPahatanDua BurungTelah SatuOptimismeJanganlah JauhKekasihBunga GugurPuber Kedua 1968-1977Puber Ketiga 1992-2003Sajak Cinta Ditulis pada Usia 57Hai, Ma!Barangkali karena BulanRekomendasi Buku & Artikel TerkaitBuku TerkaitMateri Terkait Fisika Mengenal Sekilas Sosok Rendra Rendra alias Willibrordus Surendra Broto, lahir di Solo pada 7 November 1935. Ia adalah anak dari pasangan Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Keluarga Rendra merupakan keluarga Katolik yang dibesarkan dalam lingkungan budaya Jawa. Ayahnya adalah seorang guru di salah satu sekolah Katolik di Solo yang mengajarkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Selain itu, ayah Rendra pun dikenal sebagai pelaku seni drama atau dramawan tradisional. Bakat seni yang dimiliki Rendra tak hanya berasal dari sang ayah. Ibunya juga sebagai pelaku seni, yakni seorang penari serimpi di Istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Selain itu, bakat-bakat seni Rendra tumbuh karena kebiasaan keluarganya. Terlahir dalam lingkungan keluarga Jawa berdarah biru, tentu pada momen-momen khusus diadakan pertemuan antar keluarga. Di acara tersebut, satu per satu anggota keluarga disuruh untuk menembang secara spontan. Akan tetapi, biasanya hal itu lebih diutamakan kepada anak-anak atau anggota keluarga yang masih muda. Pada saat itulah bakat Rendra mulai terlihat, meskipun waktu itu ia baru berusia lima tahun. Di tahun 1942, Rendra memulai pendidikannya dengan memasuki taman kanak-kanak TK. Sampai 10 tahun kemudian, di tahun 1952 ia masuk SMA di sekolah Katolik, Solo tempat ayahnya mengajar. Sementara itu, selama sekolah, bakat sastranya mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu Rendra sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerpen, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mulai membacakan puisi-puisi karangannya di pentas sekolah. Tak hanya itu, Rendra pun mementaskan salah satu dramanya yang berjudul Kaki Palsu ketika ia SMP. Tumbuh dengan semua kebiasaan serta lingkungan yang penuh akan seni dan budaya itu, maka tidak heran jika Rendra menjelma sebagai sosok seniman yang telah menghasilkan seabrek karya sastra, dari puisi, naskah drama, cerpen, dan lainnya. Ketika SMA, Rendra kembali mementaskan drama karyanya berjudul Orang-Orang di Tikungan Jalan. Dari pentas drama itulah, pertama kalinya ia mendapat penghargaan dan hadiah utama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk terus berkarya. Ia mulai mempublikasikan puisinya pertama kali di media massa tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Setamat SMA, Rendra pergi ke Jakarta dengan niat untuk bersekolah di Akademi Luar Negeri. Sayangnya, ternyata akademi tersebut telah ditutup. Ia pun memutuskan pergi ke Yogyakarta dan masuk Fakultas Sastra di Universitas Gadjah Mada. Selama berkuliah di Yogyakarta, Rendra gemar mengikuti kegiatan teater Yogyakarta. Namun, pada tahun 1954, Rendra mendapat undangan dari pemerintah Amerika untuk mengikuti seminar kesusastraan di Universitas Harvard, sehingga ia tak menyelesaikan kuliahnya di Universitas Gajah Mada. Meskipun begitu, Rendra mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari kampusnya tersebut. Pada tahun 1961, sepulang dari Amerika, Rendra pun mulai mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi kembali ke Amerika di tahun 1964, karena mendapat beasiswa untuk memperdalam ilmu pengetahuan tentang drama dan seni tari dari American Academy of Dramatical Art AADA. Keberangkatannya ke Amerika saat itu membuat kegiatan teaternya di Yogyakarta terhenti. Rendra menyelesaikan pendidikan luar negeri itu pada tahun 1967. Usai menyelesaikan pendidikannya itu, tahun 1968 Rendra mendirikan ulang teaternya dengan nama baru, yaitu Bengkel Teater. Drama yang menjadi pentas pertamanya adalah Bip-Bop. Komunitas teater buatannya itu pun menjadi perbincangan seluruh masyarakat Indonesia, karena memberi warna dan suasana baru dalam kehidupan teater di Tanah Air, khususnya Yogyakarta. Dalam teater barunya, di situlah Rendra menemukan pasangan hidupnya. Rendra mengalami cinta lokasi dengan Sunarti Suwandi, salah seorang pemain drama dalam Bengkel Teater yang banyak memberikan inspirasi kepada Rendra dalam berkarya. Namun, meski telah menikah dengan Sunarti. Tahun 1970, Rendra menikah lagi dengan Sitoresmi Prabuningrat dan beralih agama dari Katolik ke Islam. Sejak saat itu juga, ia mulai memakai nama Surendra Broto saja. Dari sekilas perjalanan hidupnya, tentunya sastrawan Indonesia yang satu ini memang mahir memainkan kata-kata cinta. Lewat bukunya berjudul Puisi-puisi Cinta yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka, Rendra membukukan 30 judul puisi cintanya. Puisi-puisi cinta tersebut ia bagi ke dalam tiga masa, yakni Puber Pertama 1954-1958 yang ia tulis pada masa kuliahnya di Universitas Gadjah Mada. Puber Kedua 1968-1977, yaitu puisi-puisi yang ditulis selepas ia kuliah di New York. Terakhir, Puber Ketiga 1992-2003, berisi puisi-puisi yang ditulisnya dalam masa reformasi 1998. Puber Pertama 1954-1958 Pada Puber Pertama terdapat 24 puisi, berisi tentang kisah percintaan remaja yang apa adanya. Manis dan romantis sekali. Disajikan berbentuk pendek, ringan, dan sederhana, tetapi sangat menunjukkan perasaan orang yang sedang dilanda cinta. Puisi-puisi itu berjudul Permintaan, Rambut, Kangen, Baju, Papaya, Sepeda, Rok Hijau, Kami Berdua, Kegemarannya, Tempramen, Pahatan, Kepada Awan Lewat, Tobat, Sepeda Kekasih, Dua Burung, Telah Satu, Optimisme, Pantun, Ayam Jantan, Janganlah Jauh, Kekasih, Angin Jahat, Membisiki Telinga Sendiri, dan Bunga Gugur. Permintaan Wahai, rembulan yang bundar jenguklah jendela kekasihku! Ia tidur sendirian, hanya berteman hati yang rindu. Rambut Rambut kekasihku sangat indah dan panjang. Katanya, rambut itu untuk menjerat hatiku. Kangen Pohon cemara dari jauh membayangkan panjang rambutnya maka aku pun kangen kekasihku. Kami Berdua Karena sekolah kami belum selesai kami berdua belum dikawinkan. Tetapi di dalam jiwa anak-cucu kami sudah banyak. Kegemarannya Pacarku gemar mendengar aku mendongeng. Dalam mendongeng selalu kusindirkan bahwa aku sangat mencintainya. Temperamen Batu kali ditimpa terik matahari. Betapa panasnya! Ketika malam kembali membenam kali pun tenteram. Bulannya sejuk dan air bernyanyi tiada henti. Jika kita marah pada kekasih selamanya. Pahatan Di bawah pohon sawo di atas bangku panjang di bawah langit biru di atas bumi kelabu –Istirahlah dua buah hati rindu. Dua Burung Adalah dua burung bersama membuat sarang. Kami berdua serupa burung terbang tanpa sarang. Telah Satu Gelisahmu adalah gelisahku. Berjalanlah kita bergandengan dalam hidup yang nyata, dan kita cintai. Lama kita saling bertatap mata dan makin mengerti tak lagi bisa dipisahkan. Engkau adalah peniti yang telah disematkan. Aku adalah kapal yang telah berlabuh dan ditambatkan. Kita berdua adalah lava yang tak bisa lagi diuraikan. Optimisme Cinta kita berdua adalah istana dari porselen. Angin telah membawa kedamaian membelitkan kita dalam pelukan. Bumi telah memberi kekuatan, kerna kita telah melangkah dengan ketegasan. Janganlah Jauh Janganlah jauh bagai bulan hanya bisa dipandang. Jadilah angin membelai rambutku. Dan kita nanti akan selalu berjamahan. Kekasih Kekasihku seperti burung murai. Suaranya merdu. Matanya kaca. Hatinya biru. Kekasihku seperti burung murai. Bersarang indah di dalam hati. Muraiku, hati kita berdua adalah pelangi selusin warna. Bunga Gugur Bunga gugur di atas nyawa yang gugur gugurlah semua yang bersamanya Kekasihku. Bunga gugur di atas tempatmu terkubur gugurlah segala hal ikhwal antara kita. Baiklah kita ikhlaskan saja tiada janji kan jumpa di sorga karena di sorga tiada kita kan perlu asmara. Asmara cuma lahir di bumi di mana segala berujung di tanah mati ia mengikuti hidup manusia dan kalau hidup sendiri telah gugur gugur pula ia bersama sama. Ada tertinggal sedikit kenangan tapi semata tiada lebih dari penipuan atau semacam pencegah bunuh diri. Mungkin ada pula kesedihan itu baginya semacam harga atau kehormatan yang sebentar akan pula berantakan. Kekasihku. Gugur, ya, gugur semua gugur hidup, asmara, embun di bunga – yang kita ambil cuma yang berguna. Puber Kedua 1968-1977 Berbeda dengan Puber Pertama yang berisi puisi-puisi cinta pendek. Di Puber Kedua puisi yang disajikan lebih panjang dan kompleks mengenai kehidupan. Puber kedua terdapat 3 puisi yang berjudul Surat Seorang Istri Siasat, 30 April 1968, Balik Kamu Balik 1972, dan Bukannya di Madrid 1977. Puisi Bukannya di Madrid menceritakan tentang sebuah dialog. Sebuah epos percintaan melalui dialog antara lelaki dan wanita. Terdapat juga beberapa simbol yang selalu terlihat, salah satunya simbol plus +. Sementara itu, dalam puisi Surat Seorang Istri menceritakan tentang pengalaman Rendra yang saat itu akrab dipanggil Willy. Waktu SMP seorang teman lelakinya meminta bantuan kepada Rendra, agar dibuatkan puisi curahan hati untuk teman perempuannya. Keesokan harinya si perempuan tersebut datang kepada Rendra, supaya dibuatkan juga surat balasan untuk teman lelakinya itu. Rendra merasa geli karena si perempuan tidak tahu, bahwa perempuan tersebut meminta Rendra untuk menjawab tulisannya sendiri. Lucu sekali ya. Grameds, apakah kamu juga mengalami masa-masa kirim surat cinta di sekolah? Selanjutnya, di puisi ketiga pada Puber Kedua ini berkisah tentang kehidupan menua dari seseorang bernama Rusman. Rangkaian katanya disusun begitu sederhana nan romantis. Sebetulnya, ketiga puisi tersebut telah dimuat pertama kali di koran dan majalah saat Rendra masih berada di bangku SMP dan SMA. Penerbitan puisi-puisinya di surat kabar itu pun bermula dari keisengan sahabat baiknya, Mulyanto yang mengirimkan puisi-puisinya ke koran dan majalah. Puber Ketiga 1992-2003 Puber Ketiga, yaitu puisi-puisi cinta yang Rendra tulis pada tahun 1992-2003. Terutama di masa reformasi 1998, hal itu karena Rendra juga semakin terbuka dengan wajah negara dan ketatanegaraan. Maka dari itu, ketiga puisi terakhir pada Puber Ketiga berisi penyadaran kritis ketatanegaraan dan antropologis kebangsaan Indonesia. Ketiga puisi-puisi cinta itu berjudul Sajak Cinta Ditulis Pada Usia 57, Hai Ma!, dan Barangkali Karena Bulan. Sajak Cinta Ditulis pada Usia 57 Setiap ruang yang tertutup akan retak karena mengandung waktu yang selalu mengimbangi Dan akhirnya akan meledak bila tenaga waktu terus terhadang Cintaku kepadamu Juwitaku Ikhlas dan sebenarnya Ia terjadi sendiri, aku tak tahu kenapa Aku sekedar menyadari bahwa ternyata ia ada Cintaku kepadamu Juwitaku Kemudian meruang dan mewaktu dalam hidupku yang sekedar insan Ruang cinta aku berdayakan tapi waktunya lepas dari jangkauan Sekarang aku menyadari usia cinta lebih panjang dari usia percintaan Khazanah budaya percintaan… pacaran, perpisahan, perkawinan tak bisa merumuskan tenaga waktu dari cinta Dan kini syairku ini Apakah mungkin merumuskan cintaku kepadamu Syair bermula dari kata, dan kata-kata dalam syair juga meruang dan mewaktu lepas dari kamus, lepas dari sejarah, lepas dari daya korupsi manusia Demikianlah maka syairku ini berani mewakili cintaku kepadamu Juwitaku belum pernah aku puas menciumi kamu Kamu bagaikan buku yang tak pernah tamat aku baca Kamu adalah lumut di dalam tempurung kepalaku Kamu tidak sempurna, gampang sakit perut, gampang sakit kepala dan temperamenmu sering tinggi Kamu sulit menghadapi diri sendiri Dan dibalik keanggunan dan keluwesanmu kamu takut kepada dunia Juwitaku Lepas dari kotak-kotak analisa cintaku kepadamu ternyata ada Kamu tidak molek, tetapi cantik dan juwita Jelas tidak immaculata, tetapi menjadi mitos di dalam kalbuku Sampai disini aku akhiri renungan cintaku kepadamu Kalau dituruti toh tak akan ada akhirnya Dengan ikhlas aku persembahkan kepadamu Cintaku kepadamu telah mewaktu Syair ini juga akan mewaktu Yang jelas usianya akan lebih panjang dari usiaku dan usiamu Hai, Ma! Ma, bukan maut yang menggetarkan hatiku tetapi hidup yang tidak hidup karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya ada malam-malam aku menjalani lorong panjang tanpa tujuan kemana-mana hawa dingin masuk kebadanku yang hampa padahal angin tidak ada bintang-bintang menjadi kunang-kunang yang lebih menekankan kehadiran kegelapan tidak ada pikiran, tidak ada perasaan, tidak ada suatu apa. Hidup memang fana, Ma tetapi keadaan tak berdaya membuat diriku tidak ada kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara dijauhi Ayah Bunda dan ditolak para tetangga atau aku terlantar di pasar aku bicara tetapi orang-orang tidak mendengar mereka merobek-robek buku dan menertawakan cita-cita aku marah, aku takut, aku gemetar namun gagal menyusun bahasa. Hidup memang fana, Ma itu gampang aku terima tetapi duduk memeluk lutut sendirian di savana membuat hidupku tak ada harganya kadang-kadang aku merasa ditarik-tarik orang kesana kemari mulut berbusa sekadar karena tertawa hidup cemar oleh basa basi dan orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan yang tanpa persoalan atau percintaan tanpa asmara dan sanggama yang tidak selesai Hidup memang fana tentu saja, Ma tetapi akrobat pemikiran dan kepalsuan yang dikelola mengacaukan isi perutku lalu mendorong aku menjeri-jerit sambil tak tahu kenapa rasanya setelah mati berulang kali. Tak ada lagi yang mengagetkan dalam hidup ini. Tetapi Ma, setiap kali menyadari adanya kamu di dalam hidupku ini aku merasa jalannya arus darah di sekujur tubuhku. Kelenjar-kelenjarku bekerja sukmaku bernyanyi, dunia hadir cicak di tembok berbunyi tukang kebun kedengaran berbicara pada putranya hidup menjadi nyata, fitrahku kembali. Mengingat kamu Ma, adalah mengingat kewajiban sehari-hari kesederhanaan bahasa prosa, keindahan isi puisi kita selalu asyik bertukar pikiran ya Ma? masing-masing pihak punya cita-cita masing-masing pihak punya kewajiban yang nyata Hai Ma! apakah kamu ingat aku peluk kamu di atas perahu ketika perutmu sakit dan aku tenangkan kamu dengan ciuman-ciuman di lehermu? Masyaallah… Aku selalu kesengsem pada bau kulitmu Ingatkah waktu itu aku berkata kiamat boleh tiba, hidupku penuh makna Hehehe waahh.. Aku memang tidak rugi ketemu kamu di hidup ini dan apabila aku menulis sajak aku juga merasa bahwa kemaren dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan sama saja. Langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa. Sudah ya, Ma… Barangkali karena Bulan Bulan menyebarkan aroma berahi dari tubuhnya. Yang lalu melekat di daun-daun pohon tanjung yang gemetaran. Seekor kucing jantan mengerang dengan suara ajaib. Mengucapkan puisi yang tak bisa ia tuliskan. Dan, Ma, aku meraih sukmamu yang jauh dari jangkauanku. Aku tulis sajak cintaku ini Karena tak bisa kubisikkan kepadamu. Rindu mengarungi Senin, Selasa, Rabu, Dan seluruh Minggu. Menetas bagaikan air liur langit Yang menjadi bintang-bintang. Kristal-kristal harapan dan keinginan berkilat-kilat hanyut di air kali membentur batu-batu yang tidur. Gairah kerja di siang hari di malam hari menjadi gelora asmara. Kerna bintang-bintang, pohon tanjung, angin, dan serangga malam. Ma, tubuhmu yang lelap tidur terbaring di atas perahu layar hanyut di langit mengarungi angkasa raya. Nah, itulah puisi-puisi terkenal dari Rendra. Meskipun zaman telah berkembang menjadi semakin modern, tetapi eksistensi dari puisi romantis karya sastrawan senior tetap akan selalu dikenang. Sebagai generasi muda, kita tentu saja tidak boleh melupakan karya sastra tersebut ya… Rekomendasi Buku & Artikel Terkait Penulis Indah Utami Baca Juga! Jenis-Jenis Puisi Lama, Ada Apa Saja? Memahami Teori dan Sejarah Sastra Tokoh-Tokoh Puisi di Indonesia, Siapa yang Menjadi Favoritmu? Mengenal Apa Itu Majas dan Contohnya Pengertian Puisi dan Cara Membuatnya 7 Sastrawan Indonesia Pada Eranya Apa Itu Aliran Romantisisme? ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah." Custom log Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda Tersedia dalam platform Android dan IOS Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis Laporan statistik lengkap Aplikasi aman, praktis, dan efisien
Puisi Hai, Kamu! Karya Rendra Hai, Kamu! Luka-luka di dalam lembaga, untaian keangkuhan kekerdilan jiwa, noda di dalam pergaulan antar manusia duduk di dalam kemacetan angan-angan. Aku berontak dengan memandang cakrawala. Jari-jari waktu menggamitku. Aku menyimak kepada arus kali. Lagu margasatwa agak mereda. Indahnya ketenangan turun ke hatiku. Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku. Jakarta, 29 Februari 1978Sumber Potret Pembangunan dalam Puisi 1993Puisi Hai, Kamu!Karya Rendra lahir pada tanggal 7 November 1935 di Surakarta Solo, Jawa Rendra meninggal dunia pada tanggal 6 Agustus 2009 pada usia 73 tahun di Depok, Jawa Barat.
- Karya sastra menjadi sebuah curahan hati dari seorang pengarang. Dapat dituangkan dalam bentuk cerita maupun puisi. Salah satu penyair atau penulis puisi terkenal di Indonesia adalah Rendra. Puisi-puisinya terus melegenda di Indonesia. Willibrordus Surendra Broto Rendra lahir pada 7 November 1935 di Solo. Salah satu puisi yang terkenal dari Rendra adalah Telah Satu. Berikut puisinya Telah Satu Gelisahmu adalah kita bergandengandalam hidup yang nyata,dan kita cintai. Lama kita saling bertatap matadan makin mengertitak lagi bisa adalah penitiyang telah adalah kapalyang telah berlabuh dan ditambatkan. Kita berdua adalah lavayang tak bisa lagi diuraikan. Baca juga Struktur Batin Puisi beserta Penjelasannya Makna puisi Telah Satu Puisi tersebut bermakna percintaan atau romantisme. Tentang kebersamaan dan kepercayaan yang dilalui bersama baik keadaan senang atau duka. Puisi Telah Satu juga menceritakan seorang kekasih yang ia cintai selama ini namun jarang bertemu. Sepasang kekasih yang diceritakan dalam puisi tersebut meyakini bahwa cinta yang dimilikinya semakin kuat dan tidak akan terpisah untuk selamanya. Dalam puisi tersebut, penulis menghayati perasaan yang sedang dirasakan. Di mana ada keyakinan bahwa tidak akan terpisahkan dengan kekasihnya karena sudah ditakdirkan untuk bersatu selamanya. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
puisi waktu karya ws rendra